Pecel Rawon Banyuwangi - Apa bayangan Anda jika dua makanan yang berbeda jenisnya dijadikan satu? Yang satu berbahan dasar sayuran, satunya berkuah dan berbahan daging. Pecel Rawon, ini nama hasil perpaduan antara nasi pecel dan rawon. Tidak usah hanya dibayangkan karena makanan ini benar-benar ada dan bisa dinikmati di Banyuwangi.
Pecel dipadu dengan rawon mungkin terasa mengada-ada, tapi jika Anda sempat mencicipinya, penilaian Anda akan berubah terhadap kuliner yang satu ini. Seperti halnya Rujak Soto yang merupakan perpaduan antara Rujak dan Soto, Pecel rawon adalah perpaduan antara pecel yang terdiri dari sayuran yang diberi bumbu kacang kemudian disiram dengan kuah rawon daging. Tapi berbeda dengan rujak soto yang menggunakan lontong, pecel rawon memakai nasi.
Pecel rawon atau rawon pecel sudah menjadi makanan khas Banyuwangi. Makanan ini cukup mudah ditemukan mulai dari restoran hingga warung-warung kaki lima di Banyuwangi. Salah satu warung makan pecel rawon yang dikenal masyarakat luas adalah Rumah Makan Pecel Ayu di Jalan Laksda Adisucipto 60, Banyuwangi.
Di setiap rumah makan, pecel rawon disajikan lengkap dengan menu lauk-pauknya. Seporsi pecel rawon biasanya terdiri dari sepiring nasi pecel yang berisi sayuran rebus, seperti bayam, taoge, kacang panjang, dan sambal pecel, ditambah kuah rawon. Pelengkapnya, udang goreng, empal sapi, ragi, paru goreng kering, dan remukan rempeyek kacang.
Paduan sambal pecel dan kuah rawonlah yang menjadi keistimewaan pecel.
Ayam Kesrut adalah salah satu kuliner khas Suku Osing di Banyuwangi yang diangkat pada Festival Banyuwangi Kuliner (Bakul) 2018. Ayam Kesrut atau Uyah Asem berbahan baku ayam kampung muda yang dimasak dengan bumbu-bumbu sederhana yaitu, cabai merah besar, cabai rawit, terasi, gula, garam dan juga belimbing sayur. Cara memasaknya pun sangat mudah, ayam kampung dipotong kecil-kecil lalu direbus dengan bumbu yang sudah dihaluskan hingga matang. Terakhir masukkan belimbing sayur yang sudah dipotong-potong.
Saat ini, ayam kesrut ini banyak ditemukan di warung-warung di kawasan kota Banyuwangi dan pedesaan di lereng Gunung Ijen. Tidak hanya itu, hotel berbintang di Banyuwangi juga banyak yang menawarkan menu ayam kesrut ini. Sementara itu Hasnan Singodimayan, budayawan Banyuwangi kepada Kompas.com mengatakan ayam kesrut atau uyah asem mulai populer sejak tahun 1950-an dan masuk kuliner golongan kelas menengah. Saat dibukanya perkebunan di Banyuwangi pada tahun 1870-an banyak pendatang yang masuk ke Banyuwangi dengan membawa ragam kulinernya sehingga terjadi akulturasi bukan hanya budaya tapi juga soal makanan sehingga makanan di Banyuwangi unik dan beragam. Selain itu, ayam kesrut lebih banyak menggunakan bagian tulangan ayam seperti ceker, sayap dan bagian punggung karena dipengaruhi era penjajahan Jepang.
Nasi tempong atau akrab dengan sebutan Sego tempong adalah makanan khas Banyuwangi berupa kumpulan sayuran yang sudah direbus seperti bayam, kenikir dan daun kemangi dan lauk tahu, tempe, bakwan jagung goreng, dan ikan jambal goreng tepung. Nasi ini kemudian disiram dengan sambal kacang. Ciri khasnya adalah bau kencur yang sangat terasa dari sambalnya[1]. Namun ada pula yang menggunakan sambal terasi yang juga sangat pedas. [2] [3]
Tempong adalah kata dalam Bahasa Osing yang berarti tampar dalam bahasa Indonesia. Dinamai demikian karena rasa pedas dari nasi tempong memberikan sensasi seperti ditampar.
TAK lengkap kalau ke Banyuwangi tanpa mencicipi nasi tempong. Kuliner khas kabupaten di ujung Timur Jawa ini membawa indera pengecap kita menjelajahi rasa ala banyuwangian: manis, asam, dan asin, sekaligus pedas yang menampar.